Friday, January 1, 2010

Titah of His Majesty in conjunction with New Year 2010 (by RTB - English)

Photo (c) Infofoto 2009

His Majesty Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mui'zzaddien Wadaullah, the Sultan And Yang Di-Pertuan of Brunei Darussalam in the titah pointed that we all enter the new year 2010 with the feeling of joy and full of gratefulness. Thus, one must be grateful, as the country has successfully glided through the year 2009 with perseverance, occasionally faced with shock, faced with rare incidents such as floods and landslides and also Influenza A H1N1. All these are natural causes, a sign, so that we are ever ready and wise in tackling them. Among the wise ways is to equip ourselves with major action plans, that include the basis of the worse case scenario. That way, the readiness will be more orderly in the future. The monarch was speaking earlier tonight in a titah broadcast by Radio and Television Brunei to the nation in conjunction with the New Year 2009.

His Majesty in the titah said The country has recorded several achievements along the year 2009. As an effort towards securing the food security of the country, the country has taken and is taking necessary steps in raising the local padi production. His Majesty is happy because with the government's move, it can be seen that it has successfully injected encouragement to the rakyat, together actively in the plantation field. His Majesty has heard that, nowadays many people who like to be called farmers, are attending to their land like never before. No doubt, it is the development that makes the country proud. Besides that, locals are also carrying out efforts in food industries and some can be seen participating in the regional and international expos to promote their food products. All these lead to peace and prosperity.

His Majesty in the titah said that as of 1st of January 2010, the country is introducing the the Supplemental Contributory Pension, SCP Scheme, for both public and private sectors explicitly for those under the Employee Trust Fund or TAP, and also for those inrelation to the raising of pension age of 60 years. His Majesty said the government is committed to carrying out any studies on any policy, for the peace of the rakyat and residents. In this regard, His Majesty believes that there is room for observing and introducing alternative saving schemes or other means of meeting the basic needs, such as housing needs.

In the development efforts, all these ought to be given attention. His Majesty welcomes improvement steps that have and is currently being taken to expedite and further facilitate all public concerns, including those related to starting business. With these steps, it is not impossible for the country's condition in the list of 'ease of doing business' can improve further. According to the International Financial Corporation, World Bank 2010, Brunei Darussalam is in the 96th position out 183 countries assessed. If a country fulfills its service ethics with transparency without favouritism and corruption, Allah willing, whatever that have been planned and carried out will proceed smoothly and be blessed. This is the integrity that civil service must have. Without integrity, a country will fall, or at least will lose the development capability.

On the regional and international development, His Majesty in his titah reminded the people in the country to be together in facing challenges or tests. According to His Majesty, the most important thing for the country is to develop an attitude to continuously be on good terms with all friendly nations in the world. This principle is to be upheld, in line with the religious teachings that require the ummah to know all races and tribes in the world. However, His Majesty said the acquaintances should be tied with a pre-conditional mutual respect, in other words, we respect our friends and vice versa. This is interpreted through various ways, including words, writings, and the like. Anything that can offend a friend, can be considered as not fulfilling the pre-conditions. Finally, His Majesty expressed his highest appreciation and thanks to the Civil Service officers and staff at all levels, Security Forces as well those serving with the private sector, for all their efforts in executing their respective responsibility. In this opportunity, His Majesty and His Majesty's family wish all the citizens and residents of the country A Happy New Year 2010, and call on them to pray together to Allah the Almighty for his blessings and protection for the people and nation.

extracted from RTB News website, 1st January 2010

Tuesday, December 29, 2009

Anti-corruption Bureau

Pleased to announce that the hotline of Anti-Corruption Bureau (Biro Mencegah Rasuah) is 143.

For more information on what we can do to stop corruption, please check the Bureau's website at
http://www.bmr.gov.bn/english/index.php

Excerpt of His Majesty's Titah on the occasion of New Year 2008:
"Jangan anggap 'rasuah kecil' tidak mengapa, tetapi ingatlah akan risikonya. Kecil atau besar, sedikit atau banyak, adalah sama-sama bernama penyakit, yang boleh menjejaskan negara. Negara yang karam dengan rasuah adalah negara yang malang."

Thursday, December 24, 2009

e-Government Citizen Survey 2009

Join this online survey to express your view and help us to improve on the e-Government services in Brunei Darussalam:

www.egovcitizensurvey2009.gov.bn

Also, you may see this at road-shows, focus group and at various Government Departments, namely the Labour Department, Immigration & National Registration, Post Office-Mail Processing Centre and the Land Transport Department.

Each participant who completes the survey will receive a participation gift and will be eligible for grand prizes (provided names and IC number are given).

So, what are you waiting for? :P

Titah KDYMM sempena Awal Tahun Hijrah 1431

(c) Infofoto 2009

Titah Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam Sempena Menyambut Awal Tahun Hijrah 1431

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir Rahmanir Rahim


Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalameen, Wabihie Nasta’eenu ‘Alaa Umuriddunya Waddien, Wassalatu Wassalamu ‘Alaa Asyrafil Mursaleen, Sayyidina Muhammadin Wa’alaa Alihie Wasahbihie Ajma’een, Waba’du.

Alhamdulillah, kita sekarang berada dalam Tahun Baru Hijrah 1431. Kita berdoa, semoga ia membawa keberkatan yang diharap-harapkan kepada negara dan bangsa.

Semoga juga kehadirannya, akan menyuntik kesedaran baru untuk umat Islam di bidang ‘pembinaan diri’, bukan saja di Negara Brunei Darussalam, malahan juga di seluruh dunia.

Umat Islam yang berjumlah 1.5 bilion dari 7 bilion penduduk dunia itu, masih saja kelihatan mengalami beberapa tengkarah dan keadaan tidak menentu. Mereka dicengkam oleh api-api peperangan dan kekacauan-kekacauan berdarah serta lain-lain, termasuk krisis ekonomi dan hutang yang teruk.

Mengapakah perkara yang seperti ini harus berlaku?

Selaku manusia bertuhan, kita tidak boleh lari dari melihat perkara ini sebagai ada kaitannya dengan ketentuan Allah Taala jua. Kerana tidak akan dapat bergerak atau berlaku sesuatu itu, melainkan dengan kehendak Allah jua.

Begitulah dari sudut ilmu ugama.

Namun, Allah juga memulangkan ‘buku keras’ kepada manusia sendiri, mengapa kejadian-kejadian yang tidak diingini itu berlaku, seperti maksud firman-Nya dalam Surah Ar- Rum, ayat 41:

“Telah berlaku berbagai kerosakan dan bala bencana di darat dan di laut dengan sebab perbuatan tangan-tangan manusia sendiri …”

Maknanya, semua itu adalah berpunca daripada kita juga. Terdapat kesalahan daripada kita, makanya hukuman Allah pun berlaku untuk menyedarkan kita semula.

Allah adalah Maha Adil kepada semua hamba-Nya. Dia tidak memilih-milih mengikut bulu atau kedudukan. Orang yang patut dihukum akan dihukum-Nya dan orang yang patut dilepaskan akan dilepaskan-Nya daripada hukuman itu.

Bagimanapun, sunnatullah sangatlah menyukai taubat oleh para hamba.

Bertaubat merupakan pendirian orang-orang mulia, pendirian orang-orang salih dan ahli taqwa. Tidakkah Allah Taala itu telah berjanji kepada ahli taqwa untuk melepaskan mereka dari kesempitan dan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya dengan luas?

Jadi pada hemat beta, jalan untuk umat Islam keluar dari tengkarah dan pelbagai krisis, satu-satunya, adalah melalui ‘jalan taubat’ ini.

Jika perpecahan itu dianggap satu dosa, maka umat Islam, tidak oleh tidak, mestilah bertaubat (rujuk kepada Allah) dengan bersatu. Begitu juga, kalau maksiat seperti yang kita tahu, menjadi kebencian kepada Allah, maka umat Islam, tidak boleh tidak, mestilah cepat-cepat bertaubat meninggalkan kebencian-Nya itu.

Ini saja ubat mujarab yang ada. Adapun yang lain-lain itu cuma penyokong atau pelengkapnya saja.

Sebab itu, berbalik kepada Brunei, beta masih tidak jemu-jemu untuk menekankan perkara ugama supaya diambil berat. Kerana ugama itu adalah cahaya, yang akan menerangi jalan kita. Tanpa ugama, semuanya akan jadi kelam dan binasa.

Sesebuah masyarakat atau negara, bagaimanapun ia kelihatan hebat pada zahir, jika ugama tidak turut menjiwainya, maka masyarakat atau negara seperti itu, sebenarnya, bukanlah ia hebat tetapi bermasalah.

Kita mengharapkan negara kita benar-benar menjadi bumi yang sentosa, yang dipeliharakan oleh Allah serta mendapat perlindungan-Nya dari sebarang kemelut dan masalah.

Maka untuk itu, kita kenalah memenuhi segala prasyarat, selaku pewaris dan pemilik, iaitu menjadi hamba yang benar-benar bersyukur, yang melakukan amal taqwa untuk selama-lamanya.

Insya-Allah, dengan cara ini, nikmat akan berkekalan dan bahkan akan ditambah lagi oleh Allah dengan berlipat-lipat ganda.

Untuk akhirnya, beta dan keluarga beta dengan amat sukacita dan tulus hati mengucapkan Selamat Menyambut dan Memasuki Tahun Baru Hijrah 1431. Semoga sepanjang menjalaninya, kita akan beroleh kebahagiaan serta hidayat daripada Allah Subhanahu Wataala. Amin.

Sekian, Wabillahit Taufiq Walhidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Source: Press Room, Information Department


------

Intisari Titah (disusun oleh Dr Muhd Hadi Muhd Melayong, Pengarah Penerangan)

* Tahun baru Hijrah 1431 diharap akan membawa keberkatan kepada negara dan bangsa.

* Kehadirannya juga akan menyuntik kesedaran baru umat Islam di bidang 'pembinaan diri' bukan saja di Negara Brunei Darussalam juga di seluruh dunia.

* Bertaubat merupakan pendirian orang-orang mulia, orang-orang soleh dan ahli takwa.

* Umat Islam mesti bertaubat bagi keluar dari tengkarah dan pelbagai krisis.

* Perkara agama mesti diambil berat kerananya adalah cahaya.

* Tanpa agama semuanya akan menjadi kelam dan binasa.

* Kita berharap Brunei menjadi bumi yang sentosa yang dipelihara Allah serta mendapat perlindungan-Nya dari sebarang kemelut dan masalah.

* Sebuah negara akan menjadi hebat jika kita benar-benar menjiwai agama.

Source: Pelita Brunei, 19 Disember 2009, bil 101, p1

What is Dolphin Friendly?


While I was enjoying my breakfast with crackers & Tuna spread this morning, the little label of dolphin on the can of tuna spread caught my attention. (I love dolphins because they are gentle and also they are the icon of MOPAS). The can was labelled "Dolphin Friendly". I finished off the bite in haste, and Google search on this topic. Then only I know the story.

According to Wikipedia, Dolphin Friendly label refers to fishes (tuna) caught without harming or killing the dolphins. This is because dolphins usually face a threat from being a bycatch in tuna fisheries.

You can read more here:
http://en.wikipedia.org/wiki/Dolphin_safe_label

Glad that I learn something new today! :-)

-----
I would like to take this opportunity to wish everyone a joyful Christmas & Happy New Year 2010... Happy holidays!

Tuesday, December 15, 2009

Titah KDYMM di Bali Democracy Forum 2009


Photos (c) Infofoto 2009

Titah Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam di Forum Demokrasi Bali, Republik Indonesia pada 23 Zulhijah 1430 / 10 Disember 2009

President Bambang Yudhoyono,
Distinguished Colleagues,
Ladies and Gentlemen.

I would like to thank you very much indeed, Mr. President, for your kind invitation to join you again this year.

In Brunei Darussalam, we greatly appreciate the respect it accords to our country and it is an honour and a pleasure to be here in Bali again.

May I also add my warm greetings to our co-chairman, Prime Minister Hatoyama and express my appreciation for Japan’s great contribution to lasting friendship and goodwill throughout our region.

The forum is only a year old. But I think it is starting to offer very special in regional and even international affairs. Our gathering here is very special. As you said last year, Mr. President, we have a chance to come together on behalf of our people not to debate, dictate or negotiate but to share our feelings and experiences as companions in the world we share. In this spirit, I thank all our friends from this region and beyond. Their presence here inspires us. Their words and thoughts unite us in common purpose.

Mr. President,

Our regional association, ASEAN, has ten members and ten very different systems of government. This is the result of many things. There is the history and geography of our region and the influence of events and forces from outside our region. There is the structure of our societies. And most importantly, there are our customs, faiths and traditions. All these, of course, have been well explained by historians, political and scientists and economists. But, at the end of it all, one simple fact remains. We are what history has made us.

In that sense, our efforts in Brunei today are directed far less at the past than at the increasingly urgent present. This is a task that is both exciting and disturbing. It is exciting because of the bright new future that we could be opening up.

It is disturbing because there are also challenges that are neither clear nor bright. They are dark. They are dim. They are felt rather than known. They challenge our traditional way of life, our religious life, our family life, our community life, our social relations. They are felt by our people who often worry about the impact of the internet, the television and the influence of new ideas and new values. It can all lead to fear for security, whether it be economic, personal, financial or environmental.

In the face of all this, we believe that our generation of leadership in all walks of life has one overriding responsibility. That is to give our people confidence and trust. Here, I mean the confidence that their most cherished values are not under treat. The confidence that the absolutes that shape their family and community lives will not disappear.

The confidence that respect, faith, social stability and goodwill towards each other are enduring. And by trust, I mean the trust that their government will not allow the modern world to destroy all this and the trust that they will be well-prepared, educated and equipped to see globalization as something to be embraced and welcomed.

That broadly represents our approach to the Brunei we see emerging today. Just as the world around us is changing at an astonishing pace, so is our society and so are our people. There is a lesson from this, Mr. President. It is made clear almost every day. It tells us that we, ourselves, must become like good teachers. We must listen as well as instruct. We must be constantly assessing and re-assessing.

This, Mr. President, is why our regional association is so important to us. It is central to our efforts to adjust to the new world of the 21st century, Mr. President and its often severe demands. We have a crucial target for a level of regional integration never thought possible twenty years ago. This is now only five years away.

It demands that we work together. It demands that we listen to each other. It tells us that we have to speak the language of our farmers, planters and fishermen, our businessmen and women, our community leaders and our young people. In other words, we must be alongside those who are watching the modern world from deep inside it and are wondering whether they will be buried under its weight.

Those are our thoughts in Brunei, Mr. President. We still have great pride in our history, our traditions and our way of life. It is our inheritance and we cherish it. But just as we inherited our own past, so will our children and grandchildren inherits theirs.

And we are increasingly aware that this is our immediate responsibility. The past is what it is. The future will be the same. Only the present is changeable. That is what we are now engaged in. Its official names are ‘education’, ‘health care’, ‘food security’, ‘economic diversification’ and so on. But, in spirit, we believe it is the essence of the political values that we are privileged to share at this forum.

So, I thank you once again, Mr. President, for the kindness and hospitality so generously given by your government and people.

Thank you.

Source: Press Room, Information Department

Titah KDYMM sempena Hari Raya Aidiladha 1430H / 2009M

Photo (c) Infofoto 2009

Titah Perutusan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah ibni Al-Marhum Sultan Haji Omar 'Ali Saifuddien Sa'adul Khairi Waddien, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam Sempena Hari Raya Aidiladha Tahun 1430 Hijriah / 2009 Masihi pada 27 November 2009.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir Rahmanir Rahim

Alhamdulillahi Rabbil'alameen, Wabihee Nasta'eenu 'Alaa Umuriddunyaa Waddeen, Wassalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Mursaleen, Sayyidina Muhammadin, Wa'alaa Aalihee Wasahbihee Ajma'een, Waba'du.

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Walillahilhamd

Aidiladha datang lagi. Setinggi-tinggi syukur kita rafakan ke hadrat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mengurniakan rahmat-Nya menemukan kita lagi dengan hari yang mulia ini.

Hari ini, seluruh umat Islam menyambutnya dengan riang gembira.

Di masjid-masjid atau di tanah-tanah lapang di seluruh dunia, sedang menyaksikan kegembiraan dan kemeriahan itu. Mereka berkumpul beramai-ramai untuk sama- sama bergembira dengan melakukan Sembahyang Sunat Aidiladha.

Apakah yang lebih membahagiakan lagi dari suasana seperti ini?

Bagi dada-dada yang penuh dengan iman, akan lebih merasakan lagi perkara tersebut, kerana iman itu adalah suluh hati. Orang yang hatinya bersuluh dengan iman, adalah orang yang dapat melihat, betapa indahnya Islam itu.

Agama Islam agama silaturahim, agama ramah mesra, agama muafakat. Islam tidak mengajar umatnya mementingkan diri, tetapi sebaliknya menyuruh, untuk komited dengan masyarakat.

Inilah ajaran Islam. Ia tergambar dalam sistem peribadatannya. Lihat sajalah kepada ibadat sembahyang, yang sangat-sangat digalakkan berjemaah, sehingga dijanjikan dengan pahala berlipat ganda, berbanding dengan sembahyang bersendirian.

Sekali dalam seminggu, diwajibkan pula berkumpul untuk Sembahyang Jumaat, sementara dua kali dalam setahun, digalakkan beramai-ramai untuk melakukan Sembahyang Sunat Aidilfitri dan Aidiladha.

Kemuncak dari perkumpulan paling besar pula, dilakukan di Mekah Al-Mukarramah pada Musim Haji.

Ini semua, adalah isyarat-isyarat jelas, betapa Islam itu menggalakkan pertemuan - pertemuan mesra di antara umatnya, bukan pertemuan-pertemuan kosong yang sia-sia, tetapi bertemu sambil beribadat kepada Allah Ta’ala.

Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Walillahilhamd

Melihat indahnya Islam itulah, menjadikan kita bertambah-tambah sayang kepadanya. Melihat ajaran-ajarannya yang sempurna itulah, membawa kita lebih bersemangat dan lebih ghairah lagi untuk melihatnya berkembang dan terus maju.

Semua pihak dari kalangan orang Islam tidak boleh berkecuali dalam memajukan Islam. Semua kita adalah sama-sama berkewajipan untuk berbuat yang demikian itu.

Dalam dunia yang penuh dengan pancaroba ini, bermacam-macam rancangan untuk melemahkan Islam, di antaranya yang paling merbahaya sekali ialah, berupa fitnah-fitnah terhadapnya dan juga terhadap dan juga terhadap orang-orang Islam sendiri.

Kita hanya mampu, untuk meminta supaya berhenti, tetapi mengharapkan orang berhenti adalah mustahil, berdasarkan, usia agama Islam yang dibawa oleh Sayidina Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam telah menjangkau lebih dari 1,400 tahun, namun hingga sekarang, fitnah-fitnah itu terus saja mekar dalam bentuknya yang bermacam-macam.

Di saat baik dan bulan baik ini, marilah kita samasama berdoa, semoga Allah terus memelihara agama-Nya dan memelihara kita semua hingga ke akhir hayat, berada di dalam selamat dan sejahtera dan terhindar daripada sebarang fitnah dunia Akhirat. Amin.

Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Walillahilhamd

Akhirnya, beta dan keluarga beta, dengan ingatan penuh muhibah, sukacita mengucapkan Selamat Hari Raya Aidiladha Al- Mubarak kepada semua lapisan rakyat dan penduduk yang beragama Islam, di mana saja mereka berada. Tidak lupa juga kepada mereka yang sedang berada di Tanah Suci Mekah pada ketika ini. Semoga Allah memberikan kita semua kebahagiaan berupa perlindungan, kesihatan dan kemakmuran. Amin.

Sekian, Wabillahit Taufeq Walhidayah, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Source: Press Room, Information Department

Sunday, November 22, 2009

characteristics of Laila rice (BDR1)

From the website of Department of Agriculture and Agrifood:


Photo (c) A Jennifer Mok


Ciri-Ciri Padi / Beras Laila

Ketinggian Pokok (cm) 95-100
Tempoh Kematangan (hari) 105-110
Kelas Kematangan Matang Awal
Timbangan 1000 butir/biji (g) 26.2
Purata Hasil (tan/ha) 5.0 - 6.8
Bentuk & Saiz biji Beras Panjang
Ketahanan Terhadap Zat Besi Sederhana Rintang
Reaksi terhadap fotokala Tidak peka terhadap fotokala


Beras Laila ini mempunyai nutrien mikro yang lebih berpatutan, kandungan karbohidrat dan serat (nutrien makro) yang rendah dan kandungan protein yang lebih tinggi berbanding dengan beras Hom Mali (Thai). Beras Laila ini juga setanding dengan beras tempatan yang lain seperti beras Pusu dan beras Adan dalam kandungan tenaga, lemak, karbohidrat dan serat manakala kandungan proteninya lebih tinggi berbanding kandungan protein beras tempatan.



Kandungan Nutrien
(Per 100g bahagian yang dimakan)

Tenaga (Kcal) 353
Air (g) 11.3
Protein (g) 8.2
Lemak (g) 1.0
Karbohidrat (g) 77.8
Serat (g) 0.2
Abu (g) 1.5

Titah KDYMM di Expo Pertanian & Agrimakanan 09

TITAH KEBAWAH DULI YANG MAHA MULIA PADUKA SERI BAGINDA SULTAN HAJI HASSANAL BOLKIAH MU’IZZADDIN WADDAULAH SULTAN DAN YANG DI-PERTUAN NEGARA BRUNEI DARUSSALAM DI MAJLIS PEMBUKAAN RASMI EKSPO PERTANIAN DAN AGRIMAKANAN 2009 BERTEMPAT DI KAWASAN KEMAJUAN PERTANIAN TUNGKU, GADONG PADA HARI KHAMIS 1 ZULHIJAH 1430/19 NOVEMBER 2009


(c) Infofoto, Information Department


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir Rahmanir Rahim

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alameen, Wabihie Nasta’eenu ‘Alaa Umuriddunya Waddeen, Wassalatu Wassalamu ‘Alaa Asyarafil Mursaleen, Sayyidina Muhammadin, Wa’alaa Alihie Wasahbihie Ajma’een, Waba’du.

Beta ingin mengajak, supaya kita terus-menerus bersyukur ke hadrat Allah Subhanahu Wataala yang telah mengurniakan nikmat-Nya berupa penghidupan yang selesa dan bahagia. Salah satu punca nikmat itu ialah bumi yang subur, yang sesuai untuk bercucuk tanam.

Di samping nikmat bumi subur, kita juga menikmati suasana dan keadaan yang aman, terlepas dari pelbagai musibah yang berat-berat, seperti bencana-bencana alam yang merosakkan bumi dan harta benda.

Sangat banyak bumi yang subur di dunia ini, tetapi banyak juga yang tidak dapat dimanfaatkan oleh warganya, kerana terhalang oleh pelbagai kejadian atau musibah. Lain lagi, setengahnya itu, ada yang memang tidak memiliki tanah dan iklim yang sesuai untuk pengeluaran makanan.

Di negara kita alhamdulillah, bumi dan iklim serta keadaan, adalah cukup-cukup memberangsangkan untuk mencari penghidupan dengan cara mengusahakan tanah.

Pekerjaan bertani dan bercucuk tanam bukanlah satu kerja lekeh, tetapi amat dipuji dan digalakkan oleh agama, kerana manfaatnya bukan untuk individu tertentu saja, malahan bagi sekalian makhluk Allah Taala, sebagaimana ada hadis yang bermaksud: “Bahawa seorang Muslim yang bertanam itu, kemudian hasil tanamannya dimakan oleh manusia, binatang dan burung, semuanya itu akan jadi sedekah baginya sehingga hari kiamat.”

Tidakkah ini petunjuk yang jelas betapa bercucuk tanam itu suatu pekerjaan yang mulia?

Jika dilakukan dengan bersungguh-sungguh, ia bukan saja mampu untuk menjamin pemakanan rakyat, malahan juga boleh membantu mengatasi pelbagai kesulitan, termasuk mengurangkan pengangguran.

Krisis global yang berkaitan dengan perubahan iklim, yang diburukkan lagi dengan berkurangnya kawasan-kawasan yang boleh dijadikan kawasan pertanian, memberikan kita kepercayaan bahawa bidang pertanian, khasnya di akhir-akhir ini, adalah suatu bidang yang amat penting, merupakan salah satu tunggak utama dalam perekonomian negara.

Oleh itu memandangkan usaha-usaha penyediaan bahan makanan adalah melibatkan secara langsung bidang pertanian, maka beta terpanggil untuk menjadikan Jabatan Pertanian sekarang ini menjadi Jabatan Pertanian dan Agrimakanan.

Pembangunan sektor pertanian dan agrimakanan ini, memerlukan peralihan dan pertanian jenis tradisi kepada pertanian berteknologi tinggi; dari pertanian jenis kecil-kecilan kepada pertanian berunsurkan komersil berskala besar; dan dari jenis pertanian sambilan kepada jenis pertanian sepenuh masa.

Ini memerlukan pendekatan baru, terutama dalam hal-ehwal pengurusan, tenaga manusia, kemudahan kewangan dan pemasaran.

Bidang pertanian di merata dunia sudah mengalami perubahan yang deras. Oleh itu adalah menjadi tanggungjawab kerajaan untuk menyediakan prasarana yang sesuai bagi menghadapi segala kemungkinan. Maka atas asas inilah, kerajaan beta, melalui Kementerian Perindustrian dan Sumber-Sumber Utama akan terus menyediakan bantuan, bimbingan dan prasarana bagi membolehkan pertanian di negara ini berdaya maju.

Para petani, peladang, penternak dan nelayan serta pengusaha pertanian, digalakkan untuk menyertai usaha-usaha penghijauan bumi ini, kerana tanpa penglibatan mereka, usaha-usaha kerajaan akan kurang berjaya.

Sebagai pengiktirafan terhadap usaha-usaha dan sumbangan para petani, peladang, penternak dan nelayan serta pengusaha pertanian di negara ini, beta dengan sukacita mengisytiharkan, bahawa pada setiap 1 haribulan November sebagai Hari Peladang, Petani, Penternak dan Nelayan bagi Negara Brunei Darussalam. Semoga dengan pengiktirafan ini, para petani, peladang, penternak dan nelayan serta pengusaha pertanian akan meneruskan usaha murni mereka untuk membantu kerajaan dan juga membantu diri mereka sendiri.

Dengan amat sukacita dan bersyukur serta iringan lafaz Bismillahir Rahmanir Rahim, Allahumma Salli ‘Alaa Sayyidina Muhammad, Wa’alaa Aali Sayyidina Muhammad, beta rasmikan Ekspo Pertanian dan Agrimakanan 2009 dan juga melancarkan pembukaan Taman Agroteknologi Brunei.

Sekian, Wabillahit Taufiq Walhidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(Source: Press Room, Information Department)

Friday, November 20, 2009

Agriculture Dept is now Agriculture & Agrifood Dept

from Pelita Brunei, 20th November 2009

Jabatan Pertanian kini jadi Jabatan Pertanian dan Agrimakanan

TUNGKU, GADONG, Khamis, 19 November. - Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalan bertitah mengumumkan bahawa, Jabatan Pertanian kini menjadi Jabatan Pertanian dan Agrimakanan.


Perubahan ini, tegas baginda, adalah memandangkan usaha-usaha penyediaan bahan makanan adalah melibatkan secara langsung bidang pertanian.


Di samping itu, pembangunan sektor pertanian dan agrimakanan sendiri amat memerlukan peralihan dari pertanian jenis tradisi kepada pertanian berteknologi tinggi; dari pertanian jenis kecil-kecilan kepada pertanian berunsurkan komersial berskala besar dan dari jenis pertanian sambilan kepada jenis pertanian sepenuh masa, titah baginda.


Baginda bertitah demikian ketika berkenan merasmikan Ekspo Pertanian dan Agrimakanan dan Melancarkan Pembukaan Taman Agroteknologi Brunei di Kawasan Kemajuan Pertanian Tungku, di sini.


Titah baginda, bidang pertanian sejak akhir-akhir ini adalah satu bidang yang amat penting dan merupakan salah satu tonggak utama dalam perekonomian negara.


Perkara ini lebih penting lagi, tegas baginda, memandangkan kepada krisis global yang berkaitan dengan perubahan iklim, di mana diburukkan lagi dengan berkurangnya kawasan-kawasan yang boleh dijadikan kawasan pertanian.


Menyentuh mengenai sejarah penubuhan Jabatan Pertanian, ia yang diwujudkan pada tahun 1932 melalui pentadbiran Dr.H.Tempany, Pengarah Pertanian Malaya merangkap Penasihat kepada Brunei Darussalam.


Pada tahun 1946, jawatan Pegawai Pertanian diwujudkan bagi urusan pertanian Negara Brunei Darussalam, yang sebelum ini ditadbirkan Kerajaan Penjajah British di Malaya, Awang Hamidon bin Awang Damit yang merupakan anak Brunei pertama dilantik memegang jawatan Pegawai Pertanian bagi tempoh 1949 hingga 1968.


Perkhidmatan Pertanian di negara ini seterusnya mendapat taraf jabatan penuh pada tahun 1968 dengan pelantikan K.G.Malet sebagai Pengarah Pertanian. Sehingga pada tahun 1980, jawatan Pengarah Pertanian disandang oleh anak Brunei iaitu Dato Paduka Hamid bin Jaafar.


Di samping itu perkembangan pertanian di negara ini mempunyai sejarah pembangunan yang membanggakan, bukan sahaja dari segi kepentingan ekonomi, tetapi juga pembangunan sosial dan budaya bangsa.


(Oleh : Zabaidah Haji Salat)